November Rain... salah satu lagu dari kelompok musik Guns n' Roses yang pernah saya gandrungi dan engga sengaja terdengar di radio pagi tadi. Ngomong-ngomong tentang "rain" dan "november", seharusnya bulan november ini sudah memasuki mongso rendheng alias musim hujan.

Di beberapa kota besar di Indonesia sudah sering hujan bahkan ada badai segala plus bonusnya berupa angin ribut. Herannya di kota Surabaya ini malah panas bak musim kemarau, jarang banget hujan... ada mendung aja udah sukur-sukur, tapi sedikit banyak saya menyukai fenomena alam yang aneh ini. Karena tanpa ada hujan jadinya kegiatan ngeluyur saya selama ini aman tenteram terkendali :D.
Ada beberapa rumor mengapa Surabaya ini tetap panas... satu adalah memang Surabaya terkenal dengan kota yang berhawa panas dan itu hal yang wajar kalau kota ini selalu telat dari jadwal musim hujan, kedua adalah Surabaya terkena imbas dari dukun pawang anti hujan yang di sewa oleh pengelola lapindo. Lah.. bayangin aja kalau hujan lancar jaya setiap hari, lumpur itu bisa jadi bubur raksasa yang bakal menggenangi porong.
Nah loh... apa bener para dukun itu bisa punya kekuatan yang bisa mengubah kebiasaan alam ya ?? yang mestinya hujan bisa disulap bim salabim jadi kemarau. Kira-kira mereka bisa engga menurunkan hujan juga ? kalau bisa mereka diterbangin saja ke Ethiopia atau ke Afrika... bikin hujan buat nyiramin tanah2 yang gersang buat berkebun, pastinya mereka bisa dianggap sebagai Dewa penyelamat :).

Di beberapa kota besar di Indonesia sudah sering hujan bahkan ada badai segala plus bonusnya berupa angin ribut. Herannya di kota Surabaya ini malah panas bak musim kemarau, jarang banget hujan... ada mendung aja udah sukur-sukur, tapi sedikit banyak saya menyukai fenomena alam yang aneh ini. Karena tanpa ada hujan jadinya kegiatan ngeluyur saya selama ini aman tenteram terkendali :D.
Ada beberapa rumor mengapa Surabaya ini tetap panas... satu adalah memang Surabaya terkenal dengan kota yang berhawa panas dan itu hal yang wajar kalau kota ini selalu telat dari jadwal musim hujan, kedua adalah Surabaya terkena imbas dari dukun pawang anti hujan yang di sewa oleh pengelola lapindo. Lah.. bayangin aja kalau hujan lancar jaya setiap hari, lumpur itu bisa jadi bubur raksasa yang bakal menggenangi porong.
Nah loh... apa bener para dukun itu bisa punya kekuatan yang bisa mengubah kebiasaan alam ya ?? yang mestinya hujan bisa disulap bim salabim jadi kemarau. Kira-kira mereka bisa engga menurunkan hujan juga ? kalau bisa mereka diterbangin saja ke Ethiopia atau ke Afrika... bikin hujan buat nyiramin tanah2 yang gersang buat berkebun, pastinya mereka bisa dianggap sebagai Dewa penyelamat :).


11 comments:
Ada pawang hujan duit gak yahh???
kebanyakan duit yun' ? perlu pawang buat menghentikan kucurannya ? transfer ke rekeningku ae yun dengan senang hati kuterima kekekeke :p
bisa nggak ya, request mendung plus angin sepoi2 ke pawang ujan? :p
suiitt... suiiitt... request-e romantis 'rek. request sisan cowok buat nemani mendung itu supre ?? hiakakaka
mbok pikir aku gak payu nemen ta? kok pake request cowok. huh, aku wes dapet om om yoo.. wekekekekee..
Jadi inget.. dulu di kampung pas ada mantenan tetangga, dukung pawang hujannya jampi-jampi diluar.. sambil buang uleg-uleg, garam dan celana dalam yang punya rumah..... tak pikir yo kok aneh temen toh.. pakai celana dalam segala...hahahaa.....
Para pawang hujan di Indo suruh ngungsiin hujannya ke Ausie ajah.. kita lagi kering nich... sampai nggak boleh boros2 pakai air...
supre> nguikk... gak iso ngomong wes :D
lily> wah, kalo lumpur lapindo kira-kira abis kancut piro yo ?!?!, kancut-e wong sak porong di klumpukno bek'e hahahaha :))
HADUHHH BAHASAMU JEK PUANCETT NGAMPUNG AEEEEEEE: mongso rendheng,kancut!!!
Dasar arek kampung...
Btw hujan-hujan kan enaknya makan sotomieeeeeee...
*hiks, kangen musim ujan di Indo...*
mongso rendheng iku bahasane priyayi mbok wekekeke... kancut bahasa suroboyoan :P. nasionalis iki critane hehe
hujan-hujan paling enak yo tidur bukan makan soto mie >:)
DOlly ian gbole bikin Soerabia panaas boeng....
Koeaing!
hahaha... membikin semangkin membara sahadja itoe boeng
Post a Comment