Kalau sedang jalan-jalan ke Jogja, maka tidak heran kalau disetiap kilometer kerap kali terlihat banyaknya lembaga pendidikan seperti Universitas, Institut, Sekolah Tinggi, SMA, SMP, SD, Taman Keceng-Keceng yang tersebar sampai ke pelosok-pelosok kota. Bentuknya pun bermacam-macam, mulai universitas yang luas dan megah berblok-blok seperti UGM sampai universitas yang kuecillll banget seperti rumah tua ada semua lengkap, dari kualitas jempolan sampai kualitas jentikan juga tersedia. Maka tidak heran kalau kota Jogja disebut dengan Kota Pelajar. Kota dimana banyak banget muda-mudi dari berbagai lingkup pendidikan yang berbeda-beda berkumpul menjadi satu di suatu wadah kota. Nah... kalau kota Jogja identik dengan kota pelajar, maka kota Surabaya identik dengan kota apa... ?
Beberapa hari yang lalu sempat berbincang-bincang dengan salah satu petinggi kantor yang kerap kali melancong dari satu kota ke kota yang lain, konon menurut ceritanya semua kota besar di sumatera dan jawa sudah dikunjungi dan pernah tinggal disana, hebat kan ?? meski sudah memasuki masa tua alias waktunya pensiun namun hobby merantau tidak pernah lepas darinya, entah karena tuntutan kerja atau memang dia melakukan itu karena suka. "Perantau tulen", ya ini adalah julukan yang sangat tepat untuk Bapak satu ini, karena selama tinggal di kota asing dia selalu menyempatkan diri untuk mempelajari bahasa, adat dan yag menarik adalah dia memutari kota dengan berjalan kaki bagaikan bekpeker muda yang berpetualang. Capek ? tentu saja.....
"ya kalau capek ya naik bemo... dari ujung ke ujung... kembali lagi... muter lagi sampai kita bisa melihat seluruh kota sambil mempelajari orang2 disekitar kita itu seperti apa karakternya.... bosan naik bemo ya turun lagi, makan... jalan lagi.. nonton... " yah.. seperti itulah yang dilakukan jika dia singgah di tempat baru, selalu mencoba menyelami kota dengan detil....
'trus... pendapat Bapak tentang Surabaya bagaimana.... ?' tanyaku...
"Surabaya adalah Kota PESING !!!" jawabnya disusul tawa kecil....
'hah ?? Kota Pesing (bau pipis) ????' tanyaku lagi....
"ya, selama ini kamu naik motor, naik mobil... engga terasa, coba kamu jalan kaki... saya pernah menelusuri dari rumah di barata jaya ke Tunjungan Plaza.. lalu ke JMP (total bisa mencapai 20km) jalan kaki... dibawah jembatan, di pojokan tembok, di parkiran, di terminal, di jembatan penyeberangan, di rel kereta api, bahkan di pinggir jalan besar kamu akan bau kencing... heran.. bagaimana mungkin ?? dimana itu orang-orang naruh burung kok bisa seluruh kota bau Pesing ?!?!" jelasnya keheranan...
apa iya ??, nah.. kemaren hari senin tepat pukul 5 pagi, dengan sepeda pancal warna merah aku mencoba berkeliling kota sekalian olah raga pagi, waktu satu jam cukup untuk berkeliling dari rumah ke TP trus balik lewat Delta Plaza sambil memasang penciuman.... ehhh ternyata bener juga, di pinggir jalan protokol bau pesing... di monumen patung karapan sapi bau pesing... di bawah jembatan penyeberangan delta bau pesing... apalagi di pojokannya itu ? hueeehhhh bukan bau pesing lagi.. tapi buuauuuu puuueesssiingggg... di atas jembatan Delta juga bau pesing... yailah... ternyata memang bener Surabaya ternyata bukan kota Pahlawan... tapi Kota Pesing... Engga percaya ??? coba deh jalan-jalan dan pasang idung tajem-tajem..... pueeesiinggg bbookkkk.... bagaimana mungkin ??
Beberapa hari yang lalu sempat berbincang-bincang dengan salah satu petinggi kantor yang kerap kali melancong dari satu kota ke kota yang lain, konon menurut ceritanya semua kota besar di sumatera dan jawa sudah dikunjungi dan pernah tinggal disana, hebat kan ?? meski sudah memasuki masa tua alias waktunya pensiun namun hobby merantau tidak pernah lepas darinya, entah karena tuntutan kerja atau memang dia melakukan itu karena suka. "Perantau tulen", ya ini adalah julukan yang sangat tepat untuk Bapak satu ini, karena selama tinggal di kota asing dia selalu menyempatkan diri untuk mempelajari bahasa, adat dan yag menarik adalah dia memutari kota dengan berjalan kaki bagaikan bekpeker muda yang berpetualang. Capek ? tentu saja.....
"ya kalau capek ya naik bemo... dari ujung ke ujung... kembali lagi... muter lagi sampai kita bisa melihat seluruh kota sambil mempelajari orang2 disekitar kita itu seperti apa karakternya.... bosan naik bemo ya turun lagi, makan... jalan lagi.. nonton... " yah.. seperti itulah yang dilakukan jika dia singgah di tempat baru, selalu mencoba menyelami kota dengan detil....
'trus... pendapat Bapak tentang Surabaya bagaimana.... ?' tanyaku...
"Surabaya adalah Kota PESING !!!" jawabnya disusul tawa kecil....
'hah ?? Kota Pesing (bau pipis) ????' tanyaku lagi....
"ya, selama ini kamu naik motor, naik mobil... engga terasa, coba kamu jalan kaki... saya pernah menelusuri dari rumah di barata jaya ke Tunjungan Plaza.. lalu ke JMP (total bisa mencapai 20km) jalan kaki... dibawah jembatan, di pojokan tembok, di parkiran, di terminal, di jembatan penyeberangan, di rel kereta api, bahkan di pinggir jalan besar kamu akan bau kencing... heran.. bagaimana mungkin ?? dimana itu orang-orang naruh burung kok bisa seluruh kota bau Pesing ?!?!" jelasnya keheranan...
apa iya ??, nah.. kemaren hari senin tepat pukul 5 pagi, dengan sepeda pancal warna merah aku mencoba berkeliling kota sekalian olah raga pagi, waktu satu jam cukup untuk berkeliling dari rumah ke TP trus balik lewat Delta Plaza sambil memasang penciuman.... ehhh ternyata bener juga, di pinggir jalan protokol bau pesing... di monumen patung karapan sapi bau pesing... di bawah jembatan penyeberangan delta bau pesing... apalagi di pojokannya itu ? hueeehhhh bukan bau pesing lagi.. tapi buuauuuu puuueesssiingggg... di atas jembatan Delta juga bau pesing... yailah... ternyata memang bener Surabaya ternyata bukan kota Pahlawan... tapi Kota Pesing... Engga percaya ??? coba deh jalan-jalan dan pasang idung tajem-tajem..... pueeesiinggg bbookkkk.... bagaimana mungkin ??

