Sudah hampir sebulan ini kasus "pornografi" video artis mereda. Entah karena bulan puasa sehingga masyarakat menahan diri untuk menyalahan/menuduh/menghakimi ataukah masyarakat sudah jengah dan mengabaikan ataukah kasus itu sudah selesai?.
Buat saya pribadi kasus tersebut masih menyisakan tanda tanya besar. Saya jadi kuatir jika suatu saat saya merekam adegan "anget" dengan istri saya dan kemudian ada maling menyebarkan film tersebut.
Mungkin engga jadi berita heboh, karena saya bukan publik figur. Pertanyaan selanjutnya jika hal itu terjadi adalah apakah yang berwenang sibuk mengusut apakah aktor di film itu bener2 saya? ataukah siapa yang menyebarkan film itu? ataukah menyekap saya dalam "kos-kosan" karena menimbulkan kehebohan tetangga disekitar?

Baru-baru ini Menkominfo memblokir situs-situs yang berbau pornografi. Maksud sesungguhnya sungguh mulia. Situs2 berbau kebugilan berdampak negatif di masyarakat. Bisa memicu perkosaan, tak baik untuk anak dibawah umur dan banyak alasan lain yang berbau wangi dan berasa manis.
"Anak saya yang SMA sempet lihat tuh video anget artis, saya pergokin dia waktu liat diem2"
"wah kasian, dimaharin dong Pak" timpalku...
"engga lah, saya malah nonton bareng, saya kan juga penasaran" jawabnya sambil terbahak lebar
"wah.. kompak" celetukku
"yah saya beritahu saja anak saya, terserah kalau dia mau lihat, asal sebatas ingin tahu biar engga penasaran. Yang penting jangan ditiru lah adegan itu. Kalau saya larang liat pun percuma" jawabnya
Itu percakapan saya bersama petinggi kantor. Betul juga pikirku, begitu pemblokiran situs "tak lazim" itu dijalankan saya sempet mencoba. Ternyata bener, situs itu tidak bisa di akses. Herannya saya malah penasaran dan mencoba ini itu agar situs anget tersebut bebas pemblokiran. Dan berhasil, lima menit kemudian saya menemukan caranya. Yah, kalau berniat jelek, cara apapun akan dicari.
Saya bergumam dalam hati, mengapa mata dan telinga kita harus ditutup untuk menghindari "pemandangan dan suara dosa"?. Mengapa tidak dibuka lebar saja agar bisa melihat dan membedakan mana warna hitam dan mana warna putih. Dan belajar mendengar mana yang patut di dengar dan mana yang tak patut ditiru.
Buat saya pribadi kasus tersebut masih menyisakan tanda tanya besar. Saya jadi kuatir jika suatu saat saya merekam adegan "anget" dengan istri saya dan kemudian ada maling menyebarkan film tersebut.
Mungkin engga jadi berita heboh, karena saya bukan publik figur. Pertanyaan selanjutnya jika hal itu terjadi adalah apakah yang berwenang sibuk mengusut apakah aktor di film itu bener2 saya? ataukah siapa yang menyebarkan film itu? ataukah menyekap saya dalam "kos-kosan" karena menimbulkan kehebohan tetangga disekitar?

Baru-baru ini Menkominfo memblokir situs-situs yang berbau pornografi. Maksud sesungguhnya sungguh mulia. Situs2 berbau kebugilan berdampak negatif di masyarakat. Bisa memicu perkosaan, tak baik untuk anak dibawah umur dan banyak alasan lain yang berbau wangi dan berasa manis.
"Anak saya yang SMA sempet lihat tuh video anget artis, saya pergokin dia waktu liat diem2"
"wah kasian, dimaharin dong Pak" timpalku...
"engga lah, saya malah nonton bareng, saya kan juga penasaran" jawabnya sambil terbahak lebar
"wah.. kompak" celetukku
"yah saya beritahu saja anak saya, terserah kalau dia mau lihat, asal sebatas ingin tahu biar engga penasaran. Yang penting jangan ditiru lah adegan itu. Kalau saya larang liat pun percuma" jawabnya
Itu percakapan saya bersama petinggi kantor. Betul juga pikirku, begitu pemblokiran situs "tak lazim" itu dijalankan saya sempet mencoba. Ternyata bener, situs itu tidak bisa di akses. Herannya saya malah penasaran dan mencoba ini itu agar situs anget tersebut bebas pemblokiran. Dan berhasil, lima menit kemudian saya menemukan caranya. Yah, kalau berniat jelek, cara apapun akan dicari.
Saya bergumam dalam hati, mengapa mata dan telinga kita harus ditutup untuk menghindari "pemandangan dan suara dosa"?. Mengapa tidak dibuka lebar saja agar bisa melihat dan membedakan mana warna hitam dan mana warna putih. Dan belajar mendengar mana yang patut di dengar dan mana yang tak patut ditiru.

