Backpacker dalam Wiki Dictionary dijelaskan sebagai "A traveler whose luggage consists of a backpack; especially, such a traveler who uses hostels, public transport, and other inexpensive services. "
Siapa yang doyan bekpeker?, saya yakin engga ada yang mau. Kenapa? karena jadi bekpeker itu susahnya minta kepalang. Susah, sengsara, kumal, capek dan semua yang gak enak-enak kumpul aduk jadi satu. Tapi herannya setelah melalui semua pengalaman menyedihkan itu sesampai rumah yang terngiang adalah rasa kangen. Kangen akan banyak cerita yang terbentuk dari sebuah perjalanan. Kangen akan memori yang terlintas dalam sebuah gambar yang warna-warni dan cerita yang seru.
Waktu semasa kuliah saya sering bekpekeran, istilahnya waktu itu mbambung.. gak keren amat dah. Bekpeker emang sengaja dinikmati karena alasan finansial yang minim, maklum masih sering ngompas nyokap.
Sebuah perjalanan dengan kereta api ekonomi selama enam jam adalah salah satu pengalaman menyedihkan yang pernah saya lalui. Dengan pemandangan yang tak sedap pula dimana musti berkumpul dengan pengemis cacat yang jalan dengan kedua tangannya karena kedua kakinya diamputasi. Iba? tentu saja, tapi engga banyak yang bisa diperbuat lah wong saya sendiri minim je... Kalau saya berlagak pahlawan bisa2 saya yang engga makan.
Belum lagi kalo menjelang malam, suasana gerbong jadi gelap gulita karena lampusengaja engga dinyalain. Pemandangan satu2nya yang terlihat adalah penjual korek api yang sering menyalakan koreknya di tengah kegelapan sambil berteriak lantang "korek...korek.. rokok.. korek...". Gerbong penuh sesak dengan orang2 yang berdiri, duduk bahkan berbaring di jalan dan sela2 kursi. Ditambah pula bauk kecut dan lebus penumpang plus bonus kepulan asap rokok dari tetangga belakang. Sungguh jauh dari rasa nyaman...
Kapok?? seharusnya iya, tapi saya mengulanginya lagi beberapa minggu lalu. Aneh... padahal saya sadar kalau saat menjalani nanti saya pasti mengumpat. Dan itu benar, saat badan diguncang-guncang ombak selama tujuh jam dan perjalanan dengan bus yang engga sampai-sampai saya sempat mengumpat. Mengumpat akan perjalanan yang super duper melelahkan itu.
Saat ini, untuk sebagian orang bekpeker bukan lagi menjadi cara jalan2 karena masalah finansial yang minim melainkan karena menjadi semacam "tren gaya hidup".
"Kamu mampu melakukan perjalanan udara selama satu setengah jam, tapi kenapa musti cari yang lewat darat selama duabelas jam?!?!, edan kowe!!..." tanyaku kepada adhek sepupu. "Ah mas... dua belas jam engga krasa lah kalau kita menikmati..." jawabnya sambil nenggak minuman soda kalengan warna coklat.
Ah ya... Satu yang saya engga sadar selama ini kenapa saya tetap mau mengulangi dan mengulangi lagi bekpekeran yang menjengkelkan itu adalah... karena saya menjalani dengan orang yang menyenangkan... :)
*gambar dicomot dari sini
Siapa yang doyan bekpeker?, saya yakin engga ada yang mau. Kenapa? karena jadi bekpeker itu susahnya minta kepalang. Susah, sengsara, kumal, capek dan semua yang gak enak-enak kumpul aduk jadi satu. Tapi herannya setelah melalui semua pengalaman menyedihkan itu sesampai rumah yang terngiang adalah rasa kangen. Kangen akan banyak cerita yang terbentuk dari sebuah perjalanan. Kangen akan memori yang terlintas dalam sebuah gambar yang warna-warni dan cerita yang seru.Waktu semasa kuliah saya sering bekpekeran, istilahnya waktu itu mbambung.. gak keren amat dah. Bekpeker emang sengaja dinikmati karena alasan finansial yang minim, maklum masih sering ngompas nyokap.
Sebuah perjalanan dengan kereta api ekonomi selama enam jam adalah salah satu pengalaman menyedihkan yang pernah saya lalui. Dengan pemandangan yang tak sedap pula dimana musti berkumpul dengan pengemis cacat yang jalan dengan kedua tangannya karena kedua kakinya diamputasi. Iba? tentu saja, tapi engga banyak yang bisa diperbuat lah wong saya sendiri minim je... Kalau saya berlagak pahlawan bisa2 saya yang engga makan.
Belum lagi kalo menjelang malam, suasana gerbong jadi gelap gulita karena lampu
Kapok?? seharusnya iya, tapi saya mengulanginya lagi beberapa minggu lalu. Aneh... padahal saya sadar kalau saat menjalani nanti saya pasti mengumpat. Dan itu benar, saat badan diguncang-guncang ombak selama tujuh jam dan perjalanan dengan bus yang engga sampai-sampai saya sempat mengumpat. Mengumpat akan perjalanan yang super duper melelahkan itu.
Saat ini, untuk sebagian orang bekpeker bukan lagi menjadi cara jalan2 karena masalah finansial yang minim melainkan karena menjadi semacam "tren gaya hidup".
"Kamu mampu melakukan perjalanan udara selama satu setengah jam, tapi kenapa musti cari yang lewat darat selama duabelas jam?!?!, edan kowe!!..." tanyaku kepada adhek sepupu. "Ah mas... dua belas jam engga krasa lah kalau kita menikmati..." jawabnya sambil nenggak minuman soda kalengan warna coklat.
Ah ya... Satu yang saya engga sadar selama ini kenapa saya tetap mau mengulangi dan mengulangi lagi bekpekeran yang menjengkelkan itu adalah... karena saya menjalani dengan orang yang menyenangkan... :)
*gambar dicomot dari sini


6 comments:
aku seneng backpacker an yoo...seru... u will see things u wouldn't see if u taking private & luxury transportation.
benul yen'.. meski capek ada "sumting" yg didapet dan terkenang.
aku mauk bekpekeran lg :-*
nyuukkkk..... hihi, masih lom kapok juga nak ini :p
wadoh...aku y kangen...tapi mari gini lak onok gembolan tambahan......g iso bp-an...
opo diajari ae yo hehehehe
lah iyo.. gembolan ini memang rada menghambat. tunggu agak gedhean aja trus di training :))
Post a Comment